Jumat, 11 September 2015

Dilarang Parkir


Sejumlah mobil yang terparkir tepat di samping tanda larangan. Lokasi: Depan Kantor Walikota Medan. Foto | Ang


Persoalan parkir selalu disandingkan dengan kemacatan lalulintas. Bagaimana tidak, budaya masyarakat yang suka mengabaikan peraturan, larangan dan hukuman sudah melekat erat bak daki yang hampir berkerak.

Di Kota Medan sendiri, persoalan parkir masih terus menjadi sorotan elemen masyarakat seperti tarif parkir yang tidak menentu dan cenderung bergantung pada mood sang jukir.

Jika bertemu jukir yang garang kita dipaksa membayar Rp2.000 rupiah meskipun bukan parkir di tepi jalan kelas I. Alasan mereka, setoran naik. Ketika dimintai karcis, mereka pun bilang sudah habis.

Selain soal tarif parkir, yang juga disoroti adalah ketertiban berparkir ria di tepi jalan. Tapi jelas saja ini juga diabaikan. Lihat saja sekolah-sekolah bonafit seperti Shafiyyatul Amaliyah yang muridnya kebanyakan dari kaum berada membawa mobil dan parkir di badan jalan. Terang saja ini mengakibatkan macat, menyumbat aliran lalulintas yang memang sudah padat sebab tak jauh dari situ juga ada pasar tradisional.

Selain itu, tempat-tempat makan yang terkenal dan sering didatangi para pengunjung yang juga berasal dari kaum berada seperti Mie Aceh Titi Bobrok, yang parkirnya memakan setengah badan jalan. Bukan cuma itu, tukang parkir yang ada di sana juga sering berseliweran tiba-tiba untuk mengejar uang parkir tanpa menghiraukan kendaraan yang sedang melintas. (Ketabrak sih enggak, tapi bikin geregetan aja).

Pertanyaannya, apa pelanggaran seperti ini dilegalkan di Kota Medan, sehingga pengusaha tak perlu repot memikirkan perparkiran di depan lapak mereka. Atau memang mereka sudah tahu sama tempe dengan petugas yang dalam hal ini Dinas Perhubungan Kota Medan.

Sebab, kadang-kadang di lokasi pelanggaran memang terlihat sosok penampakan pria-pria berbaju abu-abu Dishub.

Lantas, apa yang dilakukan Dishub dan Kepolisian selama ini selaku eksekutor terhadap pelanggar aturan lalulintas. Apa yang dilakukan Dishub untuk menertibkan mobil-mobil yang parkir di badan jalan? Pernah digembok? Pernah dikempesi bannya? Pernah diangkut mobilnya? Atau hanya dilihat dan ditegur dengan nasehat-nasehat suci saja? (Ang)
 



Rabu, 29 April 2015

Kakek Sarung di Medan, Teror Musiman Daerah




Warga Medan yang dibuat heboh dengan teror kakek sarung pencabut nyawa. Sebagian percaya, sebagian lagi menganggap hanya teror musiman seperti yang sudah-sudah.






Kamu tentu masih ingat dengan teror-teror sosok mengerikan di Indonesia seperti suster gepeng, kolor ijo, nenek gayung sampai kakek cangkul.

Dan dalam seminggu terakhir, giliran warga Medan yang dibuat heboh dengan teror kakek sarung pencabut nyawa.

Bahkan sebuah pesan berantai pun tersebar di kalangan warga Medan. Dalam pesan itu dituliskan jika sudah ada banyak korban meninggal karena seorang kakek yang lagi mencari tumbal ilmu hitam.

Teror sejenis kakek sarung juga pernah terjadi di Medan dan sekitarnya. Alhasil rumor-rumor seperti kolor ijo dan ninja itu berhasil membuat warga takut dan tak berani meninggalkan rumah.

Beberapa tahun lalu, warga Berastagi pernah dihebohkan dengan keberadaan ninja. Saat itu warga benar-benar tidak ada yang berani keluar rumah selepas maghrib. Kabarnya, ninja ini adalah orang yang sedang menuntut ilmu hitam dan akan membunuh siapa saja yang dijumpainya.

Menurut warga, ada yang mendengar orang berjalan-jalan di atas atap ketika malam tiba. Dan mereka mengatakan itu adalah sosok ninja dengan pakaian serba hitam.

Warga juga sempat mengejar sang ninja dengan membawa parang, pisau, cangkul dan apa saja yang bisa dijadikan senjata.

Namun ninja itu raib dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan dengan mudahnya berlari di atas atap-atap rumah.

Lain lagi kabar soal kolor ijo yang doyan mencuri pakaian dalam wanita dan memperkosa. Katanya, kolor ijo akan memasuki rumah dan memperkosa perempuan yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, warga memasang berbagai penangkal mulai dari bawang putih, sapu lidi hingga bambu kuning di atas pintu mereka.

Bahkan anak-anak sekolah membuat potongan bambu kuning yang dijadikan gelang sebagai penangkal.

Selain kolor ijo, di Berastagi juga beredar kabar hantu kepala yang gemar menghisap darah bayi. Konon katanya, warga sekitar pernah mendapati hantu itu sedang berada di atas kepala anaknya.

Ketika ia berteriak memanggil bantuan, hantu itu pun raib. Wajah dan tubuh sang anak berubah menjadi biru dan susah bernafas, sehingga ia menyimpulkan anak itu sudah terkena hantu kepala itu. Padahal ketika diperiksakan, dokter maengatakan anak itu terkena penyakit jantung.


Kini di Medan kabar kakek membawa sarung yang suka datang ke rumah-rumah setiap pagi dini hari, sore dan setelah Maghrib merebak.

Peringatan agar tidak membukakan pintu untuk si kakek yang bisa mengambil nyawa seseorang lewat sarung itu sukses membuat warga merasa diteror. Terutama oleh para orangtua.

Percaya Hanya pada Tuhan

Sementara, kebanyakan orang percaya isu kakek sarung itu hanyalah informasi tidak benar alias hoax. Mereka hanya menganggap isu itu hanyalah ulah orang iseng yang ingin mencari sensasi.

Sensasi dan terror seperti ini sudah sering terjadi dan tidak ada orang yang benar-benar menjadi korbannya. Mereka menganggap isu ini akan berlalu seiring bergantinya waktu.

“Saya tidak percaya. Saya percaya hanya pada Tuhan. Mungkin ada yang kesal terhadap pengemis yang merupakan seorang kakek-kakek, sehingga dibuat berita seperti itu supaya tidak ada lagi yang memberi sedekah padanya,” kata alumni Magister USU, Alfa Reza.

Lain lagi hal yang diungkapkan Nana Diana. Mahasiswa UMSU ini menganggap berita Kakek Sarung adalah isapan jempol belaka.

“Ah, mana mungkin. Itu mah hoax, kalau tidak coba tunjukkan mana korbannya yang katanya sudah meninggal itu. Masa keluarganya tak ada diekspose media,” ungkapnya.

Ia pun meminta warga Medan tidak panic berlebihan sebab sebagai orang beragama, kata Nana, tidak sepantasnya takut terhadap hal seperti itu.

“Kita kan orang beragama, masa percaya sama yang begituan. Yang bisa mencabut nyawa itu cuma Allah. Apalagi dengan cara-cara yang tidak masuk akal seperti itu, tidak mungkin lah,” katanya.

Lantas, darimana awal mula kisah kakek sarung pencabut nyawa itu muncul?

Sejatinya, sumber teror yang meresahkan warga Medan itu juga tak diketahui dan tiba-tiba saja menyebar di pesan berantai dan jejaring sosial.

Namun dari berbagai informasi, dipercaya jika teror ini dimulai di kota Binjai dan Medan. Disebutkan jika ada seorang kakek yang menjual kain sarung dengan harga murah sekitar Rp5.000-10.000.

Si kakek tampak begitu menyedihkan agar sang calon pembeli iba dan membeli sarung itu. Anehnya, setiap orang yang membeli sarung itu esok harinya akan meninggal dunia. Rumor berhembus bahwa sarung itu bakal berubah jadi kain kafan dan mengambil nyawa si pembeli lantaran sarung itu adalah tumbal ilmu hitam.

Salah satu pengguna Kaskus dengan akun GinGanGon bercerita bahwa rekannya yang bernama Bayu mengalami hal tersebut. Dari penuturannya, keluarga Bayu didatangi oleh kakek penjual sarung di malam hari.

Tapi karena menolak tawaran si kakek dan kakek penjual sarung itu kemudian pergi begitu saja. GinGanGon juga memberikan info bahwa ada yang melihat sosok kakek penjual sarung misterius di kawasan Mencirim, Medan yang dekat dengan kosnya. 

Mitos Soal Kesulitan Dapat Jodoh



Banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat mengenai sulit jodoh, semakin mendukung perilaku sesat seperti mendatangi dukun dan melakukan ritual-ritual tertentu sebagai syarat agar jodohnya diperlancar


Kita semua paham bahwa jodoh adalah urusan Allah Swt. Apalagi, ada sebuah ayat yang tertulis dalam Alquran, dan kami menciptakanmu berpasang-pasangan (QS AN Naba:8). Dan kita semua juga tahu, garis kehidupan (rezeki, jodoh dan ajal) telah digoreskan sejak manusia masih berada dalam kandungan ibunya seiring dengan ditiupkannya ruh.

Namun, kita tak pernah tahu kapan dan bagaimana jodoh akan datang. Sehingga, tak jarang kita temui orang yang katanya sulit mendapatkan jodoh. Bahkan, mereka ini memilih jalan kemusyrikan ketimbang mencari solusi yang lebih rasional.

Ditambah lagi, banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat mengenai sulit jodoh, semakin mendukung perilaku sesat seperti mendatangi dukun dan melakukan ritual-ritual tertentu sebagai syarat agar jodohnya diperlancar.

Orang-orang tua zaman dahulu percaya, jika seorang wanita yang sulit jodoh bisa jadi karena terhalang oleh keinginan ibunya yang tak kesampaian saat mengandung dulu. Salahsatu daerah di Sumatera Utara yang mengadopsi mitos ini yaitu Simalungun.

Menurut penduduk di sana, seorang wanita yang hampir mencapai usia kepala tiga namun masih belum menikah, boleh jadi karena disebabkan hal tersebut. Harus dilakukan suatu ritual agar dia segera bertemu jodohnya.

Salah satu syaratnya dia harus datang berkunjung ke rumah saudara perempuan ayahnya dan makan satu piring dengannya. Dengan begitu, menurut mereka, pintu jodoh akan segera terbuka.

Tak jarang kejadian ini berbuah manis. Setelah ritual dilakukan, jodoh pun datang. Fenomena ini membuat masyarakat menjadi semakin memercayai mitos tersebut.

Dicintai Makhluk Gaib

Susahnya jodoh mendekat juga konon katanya bisa karena dicintai makhluk halus loh. Orang yang diikuti dan dicintai makhluk halus seperti jin akan selalu gagal menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Hal ini ditengarai menjadi penghalang bagi seseorang untuk menemukan jodohnya.

Dikatakan seorang pakar supranatural asal Kota Medan, Saswita Vianty, ada kasus dimana seorang pria yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita karena ada jin wanita yang diam-diam mencintainya.

Jin ini tak mengizinkan ada wanita dari golongan manusia menjadi pendamping si pria. Sehingga, dia memanipulasi pikiran si pria agar membenci wanita dan hasilnya si pria pun tak penah berhasil saat hubungan yang dibinanya memasuki jenjang yang lebih serius.

”Terkadang, ada jin yang mencintai manusia. Dia hidup menempel pada tubuh manusia yang dicintainya dan ikut masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya. Makanya, kadang muncul rasa benci secara tiba-tiba kepada lawan jenis dan mengakibatkan jodoh sulit datang,” jelasnya.

Dikatakannya, hal itu terjadi diluar kesadaran manusia. Sebab, sifat jin itu sama seperti saat seseorang ketempelan jin/kesurupan pasif. Selain memengaruhi pikiran, keberadaan jin itu juga bisa meredupkan aura.

Sehingga, kata dia, seseorang menjadi kelihatan tak menarik dalam artian karena auranya yang gelap. Hal itulah yang terlihat oleh lawan jenis. Makanya, orang-orang yang dicintai jin ini cenderung tak menarik bagi lawan jenisnya.

Diluar mitos-mitos tadi, sulit jodoh juga bisa disebabkan karena hal-hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungan sekitar seseorang. Hal-hal tersebut cenderung lebih rasional dan bisa dicarikan jalan keluarnya. Misalnya saja, seorang wanita sukses.

Hal itu menjadi masuk akal, ketika seorang wanita yang karirnya gemilang, gajinya tinggi dan hidupnya mapan, membuat para lelaki menjadi minder bahkan sekadar untuk mendekat, sehingga menjadikan mereka sulit mendapat jodoh.

Hal lain yaitu karena mungkin ada dosa di masa lalu yang membuat Allah akhirnya menahan jodohnya. Sebab, seperti yang kita sepakati sebelumnya, bahwa jodoh adalah urusanNya. Cobalah koreksi diri dan bertaubat memohon ampun.

Sejatinya, jodoh akan datang ketika kita sudah siap menerimanya. Tanpa mau tahu dengan siapa, kapan, dan bagaimana, sebaiknya persiapkan saja diri sebaik mungkin. Ketika waktunya tiba, Allah pun tak akan menundanya. Seperti kata pepatah, love will find the way.

(tulisan ini sudah terbit di Harian Orbit 18 Desember 2014) 

Jumat, 06 Februari 2015

Sepak Terjang Perda KTR di Medan

Rokok merupakan hal yang sangat sulit dan mungkin mustahil dipisahkan dari masyarakat. Meskipun banyak dalil dan anjuran dokter dan ahli kesehatan yang menyatakan rokok membahayakan, namun tetap saja ada dalil alternatif yang mengatakan rokok berguna bagi kesehatan tubuh dan perekonomian. Dan hal itu membuat para perokok yang hampir tobat kembali gencar memelihara nikotin dalam tubuhnya.

Khususnya di Medan, jumlah perokok aktif masih sangat tinggi. Dengan begitu jumlah perokok pasif pasti jauh lebih tinggi. Asap rokok merupakan gangguan massal yang disepelekan. Bahkan di Medan, merokok di dekat anak bayi itu bukan larangan.

Buktinya, banyak bapak-bapak yang merokok di dalam angkutan umum tanpa segan walau ada anak kecil di sebelahnya. Seluruh penumpang biasanya pasrah diracuni asap rokok dalam angkot terutama perempuan yang hanya bisa diam dan menyaksikan.

Nah, 2013 lalu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi , menyatakan akan meminta pemerintah daerah untuk segera menetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di wilayahnya masing-masing melalui Peraturan Daerah.


Perda kontroversial akhirnya disusul dengan Peraturan Walikota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Ditetapkanlah di Medan peraturan berikut sanksi-sanksinya itu pada 2014 lalu. Dinkes dan DPRD Medan mendukung program tersebut, sehingga dibuatlah baliho-baliho besar dan stiker-stiker larangan merokok di fasilitas publik.

Fakta di lapangan? Jumlah perokok tidak berkurang dan masih seperti biasa, bahkan gedung DPRD Medan yang balihonya terpampang jelas di situ tak lantas membuat mereka para pembuat peraturan itu taat pada aturannya.

Baliho Kawasan Tanpa Rokok di Gedung DPRD Medan. Foto|Ang

Bahkan di dalam gedung yang ada balihonya itu (baca: Gedung DPRD Medan) asap rokok masih merajalela. So, tak ada perubahan baik sebelum atau sesudah perda itu terbit.

Dalam gedung yang berlokasi di Jalan Kapten Maulana Lubis itu, orang-orang masih bebas merokok. Padahal, kantor DPRD Medan termasuk tempat publik. Selain itu, pelakunya bukanlah orang-orang yang buta undang-undang. Kalau mereka buta undang-undang mana mungkin duduk di kursi dewan.

Ya, sejumlah anggota dewan masih terlihat nyaman dengan asap rokoknya di ruang Badan Anggaran (Banggar) yang notabene ber-AC.

Hal itu terlihat dalam rapat Pansus Lalulintas dan Angkutan Jalan beberapa waktu lalu. Dalam rapat itu tidak terlihat ketua DPRD Medan, namun hanya Wakil Ketua yang bertugas memimpin rapat.

Selama rapat berlangsung, asap rokok tak henti mengepul dalam ruangan itu. Tak sampai membuat sesak napas, tapi terang saja itu mengganggu pemandangan.

Pasalnya, mereka para pencipta peraturan, sementara mereka tidak bisa menunjukkan contoh yang baik kepada masyarakat bagaimana mematuhi peraturan-peraturan yang mereka ciptakan. Peraturan dibuat untuk dilanggar. Mungkin begitu.



Salahsatu oknum anggota DPRD Medan yang merokok dalam ruangan rapat. Foto|Ang

Lalu bagaimana dengan implementasinya? Dalam peraturan tersebut disebutkan sanksi berupa kurungan selama 1 hari atau denda Rp50 ribu. Masalahnya, siapa yang akan menindak itu? Bapak yang sedang duduk manis di belakang meja rapat itu misalnya, siapa yang akan mendenda atau mengurungnya?

Mari kita lihat lebih luas. Beberapa waktu lalu larangan merokok dan sosialisasi Perda KTR sudah dilakukan di angkot dan tempat-tempat umum lainnya. Lalu siapa yang mau menindak mereka? Supir? Atau pejalan kaki? atau Polisi?

Untuk sejenak mungkin masyarakat akan merasa terkesan dengan komitmen Kota Medan untuk bebas dari asap rokok. Namun, keheranan mungkin malah lebih mendominasi hingga menghilangkan perasaan terkesan tadi dengan banyaknya kejanggalan yang sangat sulit diterapkan di kehidupan nyata.

Lain hal jika orang Medan itu memiliki kesadaran tinggi dan kepedulian yang mendewa. Mungkin setelah perda ini terbit, asap rokok langsung hilang dari bumi Medan.

Kenyataannya, perda ini dinilai pincang dan sia-sia. Dinas yang bersangkutan dinilai menyajikan peraturan ini setengah matang, mentah malah.

Ketua DPRD Medan, Henry Jhon pernah mengakui kejanggalan dari perda KTR ini. Ia mengatakan perda ini tidak ada gunanya diterbitkan tanpa adanya pengawasan yang ketat dari dinas terkait.

Diakuinya denda-denda dari perokok itu dapat menambah PAD Kota Medan. Namun siapa pula yang akan mengawasi perokok di angkot dan jalan-jalan umum?

Sejauh ini keberhasilan perda ini dinilai minus oleh elemen masyrakat. Terlepas dari tujuan dan niat mulia pembuatnya, secara teknis perda ini sangat sulit diterapkan.

Akhirnya, Pemko Medan harus bekerja keras menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk hukum mereka bukan produk gagal yang hanya menjadi tulisan di atas kertas dan berstempel pemerintahan. Pemko harus mengikis apatisme masyarakat tentang gagalnya perda ini. ()


Minggu, 25 Januari 2015

Bakal Bernasib Sama dengan Gundaling


"Tutup Jalur Pendakian Sibayak"


Gunung Sibayak . Foto | Dokumen Galunggung Team


Gunung Sibayak merupakan salahsatu situs wisata alam andalan Kota Berastagi saat ini. Belum normalnya status Gunung Sinabung pascaerupsi beberapa waktu lalu membuat ratusan bahkan ribuan orang pengunjung beralih ke gunung setinggi 2,212 meter dari permukan laut tersebut.

Sekarang ini berbagai kalangan sudah menginjakkan kakinya ke gunung tersebut mulai dari pendaki, komunitas-komunitas pemuda, pasangan muda-mudi, hingga keluarga.

Memang dari segi jalur pendakian dan biaya, Gunung Sibayak merupakan pilihan yang pas untuk menghabiskan liburan akhir minggu bahkan dengan anak-anak sekalipun.

Alhasil, ribuan orang akan terlihat memenuhi lereng hingga puncaknya setiap akhir pekan. Dan, mereka akan meninggalkan gunung sampah pula. Pasalnya, orang-orang yang naik ke atas tidak semua memiliki kesadaran bahwa alam tetap harus dijaga.

Bahkan para relawan yang melakukan gerakan mengutip sampah di awal tahun silam, bukan hanya menemukan sampah bungkusan makanan atau minuman, melainkan (maaf) hajat manusia.

Sampah yang dikumpulkan dari puncak Gunung Sibayak sehabis perayaan Tahun Baru 2015. Foto | Dokumen Galunggung Team
Dalam aksi bersih yang dimotori Komunitas Akar ini, tak kurang 500 kg sampah berhasil dikumpulkan dari puncaknya.

Hal ini tentu membuat kita miris dan sedih. Sebagai aktivis yang dulu biasa mendaki gunung yang dibanggakan itu, pasti tidak terima dengan kondisi Gunung Sibayak saat ini.

Belum lagi warung-warung bertenda biru yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Tidak adanya perhatian dari pemerintah setempat akan membuat Gunung Sibayak bernasib sama dengan objek wisata lainnya seperti Tahura, Sibolangit dan Air Terjun Dua Warna, atau lebih mirip Bukit Gundaling. 

Perlu diingat, Gunung Sibayak adalah wisata alam yang perlu diperhatikan kelestariannya. Oleh karena itu perlu ada penyamaan persepsi di kalangan kelompok pencinta alam mengenai konservasi lingkungan hidup. Sehingga kelompok pencinta alam bukan hanya tahu mendaki gunung, tapi juga harus ikut melestarikan alam.

“Para kelompok pencinta alam ini perlu diperluas wawasannya, sehingga tanggap terhadap isu-isu lingkungan seperti ini. Perlu disamakan persepsi menenai konservasi yang sebenarnya itu apa,” ujar aktivis Komunitas Akar, Indra Kurnia saat berbincang dengan Harian Orbit di Warung Netral USU kemarin.

Menurut Indra, langkah-langkah strategis sangat perlu dilakukan sesegera mungkin agar Gunung Sibayak tak berubah menjadi seperti Gundaling, yang dipenuhi tenda biru, kotoran kuda, sampah dan pungutan liar.

Sampah plastik yang banyak terdampar di hampir semua areal camping Gunung Sibayak. Foto | Dokumen Galunggung Team
Langkah strategis yang dimaksud adalah ketegasan pemerintah terhadap pengelola situs alam tersebut.

Gampangnya, pembatasan jumlah pendaki untuk mengurangi keramaian di atas.  Pendaftaran peserta yang akan mendaki juga diperlukan selain untuk keamanan juga untuk mengontrol jumlah para pengunjung. Namun hal itu akan sulit terwujud tanpa adanya kerjasama dari pemerintah.

Apapun ceritanya, jika pemerintah sudah mengeluarkan aturan, para pendaki ataupun para pedagang mau tak mau harus patuh. Dengan proses pelestarian Gunung Sibayak akan lebih mudah.

Selain itu perlu diwajibkan untuk membawa turun kembali sampah yang dibawa ke gunung. Sampah dapat dikumpulkan di tempat penampungan sementara untuk selanjutnya dibuang ke TPS terdekat.

Ekstrimnya, tutup jalur mendakian Sibayak untuk beberapa waktu demi membersihkan lokasi dari sampah-sampah tersebut. Setelah itu berlakukan musim pendakian, bahwa pendakian hanya bisa pada hari-hari tertentu saja.

Hal ini yang perlu diperhatikan Pemerintah Kabupaten Karo selaku pengelola Gunung Sibayak. Jika Sibayak tetap asri, pengunjung akan terus berdatangan termasuk dari luar negeri. Pendapatan daerah pun otomatis akan bertambah, tapi jika ini dibiarkan begitu saja, Gunung Sibayak akan berubah seperti tempat wisata lainnya di Karo yang terkesan tak diurus.

PAD memang penting, tapi melestarikan alam jauh lebih penting. Hal ini yang seharusnya menjadi pembangun semangat pemerintah, masyarakat setempat dan semua pengunjung Gunung Sibayak.

Penertiban bukan berarti harus mematikan potensi wisata dan rezeki masyarakat setempat. Tetapi penataan untuk menggali potensi lebih objek wisata itu sediri jika saja pemerintah bisa mencermatinya. ()

(Tulisan ini telah dimuat di Rubrik Suara Kampus Harian Orbit edisi Rabu 21 Januari 2015)


Minggu, 18 Januari 2015

Rimba Kepentingan di Periklanan Kota Medan




Semrawut iklan. Foto|Ist
Iklan adalah salahsatu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Medan yang cukup menjanjikan. Wajar, kalau Ibukota Provinsi Sumatera Utara ini memelihara periklanan yang semakin tumbuh subur di jalanan.

Dari satu sisi tidaklah salah usaha meningkatkan pemasukan dari sektor iklan. Namun dibalik itu banyak hal-hal yang mengundang komentar bahkan kecaman dari berbagai pihak.

Mulai dari letak yang sembarangan dan semrawut, hingga iklan-iklan gelap yang menjadi entah bagaimana jadi milik pribadi.

Iklan demi iklan semakin gencar disorot oleh berbagai kalangan masyarakat. Seolah tak punya landasan aturan, iklan-iklan tersebut terpajang manis mempertontonkan hal-hal yang tak mengindahkan nilai etika dan estetika.

Iklan dengan model-model berpakaian minim yang kini disenter legislator, tokoh agama, hingga aktivis mahasiswa ini menunjukkan lemahnya pengawasan dinas terkait hingga tampilan penuh protes itu dapat lolos dan terbit ke tengah masyarakat.

Dengan sengaja atau tidak, penerbit iklan telah ikut meracuni pikiran masyarakat termasuk anak-anak dengan gambar-gambar yang tidak sopan itu.

Dampaknya? Anak-anak bisa memandang berpakaian minim hingga bagian pribadi tubuh hampir kelihatan itu bisa dilakukan di mana saja, termasuk tempat terbuka.

Apa jadinya anak-anak yang jadi menganggap berpakaian seperti itu boleh-boleh saja. Lalu untuk apa video-video semi porno dilarang beredar, jika papan iklan menampilkan hal serupa.

Medan memang metropolis, tapi masih beradat timur (saya harap begitu). That's why, itu digolongkan dalam ketidakpantasan. Itulah sebabnya kenapa di koran gambar belahan dada itu disensor, gambar paha atas disensor. Pemangku kepentingan seharusnya paham rambu-rambu tersebut, sehingga tak tersesat dalam mengejar target PAD.

Bicara solusi, bukan hanya penumbangan. Penumbangan papan iklan tersebut hanya merupakan solusi jangka pendek yang tidak efektif bahkan untuk penertiban.

Aturan dan syarat penerbitan iklan juga seharusnya diperketat. Aturan itu nantinya bisa menjadi dasar iklan seperti apa yang boleh terbit, di mana posisinya, aturan konten dan estetikanya dapat ditentukan.

Sehingga Kota Medan tidak menjadi hutan iklan semrawut dan tidak teratur.

"Perlu ada aturan yang jelas mengenai syarat-syarat iklan layak sebelum izinnya diterbitkan," kata Ketua Komisi D DPRD Medan, Ahmad Arif ketika menggelar rapat dengan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) beberapa waktu lalu.

Data dari P3I sendiri, tahun 2010-2011 ada 891 iklan yang tersebar di seluruh Kota Medan. Dan diperkirakan tahun 2014 sudah meningkat menjadi dua kali lipat.

Mengenai izin, dalam Baliho atau Bilboard harusnya diterakan nomor izin, milik siapa, dan tanggal berakhir izinnya sehingga ada transparansi kepada publik di sektor iklan tersebut.

Hal ini juga akan memangkas iklan-iklan hantu yang tak berizin.

Perlu kerja keras memang untuk membenahi sektor periklanan di Kota Medan. Mengingat perizinan iklan melibatkan tiga dinas, yaitu Dinas Pertamanan, Dinas TRTB dan Dinas Pendapatan Daerah.

Tapi mari mengesampingkan luka-luka apa yang ada dalam tubuh dinas-dinas tersebut. Let's think for future.

Perizinan satu pintu merupakan solusi efektif untuk menertibkan periklanan Medan. So, mereka para dinas tak saling menyalahkan dan tak saling lempar bola.


Dalam pengurusan izin haruslah ada kriteria kelayakan dan rambu-rambu iklan. Lagi-lagi ketegasan petugas diperlukan agak sedikit lebih banyak sehingga iklan-iklan yang terpampang tersebut inspiratif, enak dipandang dan tidak menjadi sumber cela bagi Kota Medan. ()

Jumat, 16 Januari 2015

Pencinta Alam, Kaum Idealis Palsu



Alam merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan, dan tanpa bertanya lagi memang sudah kewajiban kita untuk menjaganya. Alam adalah penyumbang terbesar dalam kelangsungan hidup manusia sedang manusia adalah penyumbang terbesar dalam kerusakannya. Manusia modern sepertinya kini tidak ingin lagi pusing memikirkan solusi untuk itu.

Sifat konsumerisme manusia yang tidak terbatas membuat rasa tanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan itu hilang begitu saja bahkan dianggap tidak pernah ada. Padahal telah sekian banyak lembaga-lembaga yang bersuara lewat berbagai media untuk menjeritkan pelestarian lingkungan, namun telinga-telinga itu seolah-olah tidak mendengar apa-apa.

Fenomena dan problematika pelestarian alam pun menjadi kian rumit setelah munculnya lembaga-lembaga mengatasnamakan penggiat alam yang ternyata berprinsip lain. Prinsip lain itu tak lain adalah proyek dan uang. Anda mungkin pernah mendengar atau melihat di media kegiatan-kegiatan berbau pelestarian alam seperti  penanaman sekian ribu pohon dan sejenisnya, dana sudah mengucur untuk itu, nama sudah terpampang di media. Lalu apa selanjutnya? Tidak ada!

 Tidak ada gunanya penanaman besar-besaran jika tidak ada follow up untuk selanjutnya. Siapa yang peduli pohon yang sekian ribu itu hidup atau mati? Tidak ada, yang penting proyek sudah jalan, dana sudah cair, TITIK. Itulah mind-set yang ada dibenak manusia sekarang ini. Tidak heran jika LSM sekarang ini sudah di-cap menjadi bandit proyek bertopeng idealisme.

Tidak ada bedanya dengan kelompok pencinta alam yang sudah menjamur dikalangan kampus maupun masyarakat. Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) adalah Kelompok pencinta alam yang merupakan bagian kecil dari kelompok penggiat alam selain LSM.

Kalau LSM mungkin sudah memiliki badan hukum yang resmi sebagai lembaga independen, maka pencinta alam adalah organisasi yang masih dipayungi oleh universitas atau fakultas masing-masing.

Mapala itu berisikan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kesamaan hobi dan kesamaan tujuan untuk melestarikan alam dan lingkungan. Mapala seharusnya adalah sosok mahasiswa yang bertujuan murni menyelamatkan lingkungan dari kerusakan-kerusakan yang ada, yang tentunya disertai dengan hobi bertualang dan berkegiatan di alam bebas. Namun seiring berjalannya waktu tujuan pelestarian itu mulai memudar.

Sekarang ini Mapala lebih kepada orang yang suka naik gunung, arung jeram, manjat-manjat dan lain-lain. Lalu kemana tujuan awal pencinta alam tersebut? Bahkan kawan-kawan pencinta alam telah banyak dicap menjadi sosok yang gampang nego, bandit proposal, dan idealis palsu. Kenapa? Karena mereka telah mendisfungsikan tujuan utama dari pencinta alam tersebut.

Mind-setnya juga sudah dapat ditebak. Proyek dan Uang. Pernahkan terpikir untuk melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan itu tanpa memikirkan untung?

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa untuk melaksanakan sebuah kegiatan pasti dibutuhkan dana cukup besar, dari itu memang wajar, apalagi kalangan mahasiswa untuk melempar proposal kesana-kemari untuk mengumpulkan dana. 

Tapi jika sudah terpikir untuk mendapat untung yang nantinya bisa dibagi-bagi ke kawan-kawan, ataupun ada maksud dan tujuan lain seperti hanya supaya dana itu cair dari pemerintah atau pemodal atau dengan kata lain bermain proyek. Sepertinya itu sudah tidak idealis lagi. Jadi dimanakah letak idealisme itu sebenarnya? Bahkan di kalangan mahasiswa yang seharusnya sangat idealis sekalipun ternyata proyek dan uang telah lebih mendominasi pola pikir.

Saya pikir orang yang merelakan tanahnya sekian hektar untuk ditanami bakau sekitar pantai itulah yang idealis. Orang yang rela berhenti membuka lahan dan membiarkan tanahnya ditanami pohon-pohon penyuplai oksigen, itulah yang idealis.

Orang yang bisa tidak merubah kebun rambutan menjadi kebun sawit, itulah yang idealis. Hanya segelintir dan langka. Mereka tidak perlu nama, bahkan tidak terlalu menggilai keuntungan. Itulah yang disebut idealis.

Jika sudah begitu kita akan bertanya, jadi dimanakah peran Diklatsar tiap Kelompok Pencinta Alam (KPA) itu? Bukankah pendidikan dan latihan dasar itu seharusnya mengajarkan apa tujuan mereka mengikuti diklatsar, dan mengapa. Apakah diklatsar hanya diisi dengan materi-materi kepecinta-alaman tanpa mengikutsertakan dan memperdalam prinsip konservasi?

Bahkan ada selentingan terdengar bahwa konservasi adalah materi yang tidak penting dan sekedar coa-coa. Apakah ternyata pencinta alam itu tidak berlandaskan prinsip konservasi lagi? Kenapa materi yang begitu fundamental ternyata dianggap hanya bunga-bunga?

Ini salah satu penyebab lahirnya generasi-generasi hedon yang tidak terarah itu. Mereka lahir tanpa doktrin jiwa pencinta alam tersebut. Mungkin hanya jiwa petualang dan solidaritas yang terpatri dalam hati mereka, sementara prinsip pencinta dan pejuang alam yang sebenarnya tidak mereka kenal.

Jadi apa yang ingin saya sampaikan kepada KPA adalah stop meng-kamuflase diklatsar menjadi mesin pencetak generasi hedon dengan mengesampingkan prinsip konservasi tersebut. Dunia tidak butuh beribu petualang yang bisa mendaki ratusan gunung dalam satu bulan.

Dunia tidak butuh orang-orang yang lihai berbicara di depan umum tentang lingkungan berbalut maksud-maksud yang hina. Dunia hanya butuh segelintir orang yang rela berjuang melestarikan alam dengan berbagai cara. Dunia butuh orang-orang yang bisa sebentar saja berhenti memikirkan keuntungan pribadi dan kelompok demi memperjuangkan kehidupan badak Sumatera atau Owa Jawa!


Dunia butuh orang-orang yang rela sedikit saja menyisihkan lahannya untuk dijadikan bank demplot pohon. Dunia hanya butuh orang-orang yang berani maju dengan segala keterbatasan untuk memperbaiki kerusakan alam dari hal-hal yang kecil. Dunia butuh pencinta alam yang bukan pencetak generasi hedon.



Disadur dari blog lama karenchiputih.blogspot.com (20 Januari 2013)

Rabu, 14 Januari 2015

Bang, Tukar Ikan Mas Koki!

Anak-anak SD yang sedang berebut membeli kupon ikan di depan sekolah. Foto|Ang

Ikan hias memang menarik. Selain warnanya yang memikat, bentuknya yang unikpun membuat orang-orang gemas dan ingin memeliharanya. Terlebih anak-anak.

Hal itu dimanfaatkan penjual ikan untuk mengadu peruntungan dengan menjual berbagai ikan hias di depan sebuah Sekolah Dasar (SD) di Jalan Setia Budi Titi Bobrok, Medan.

"Bang, gopek Bang, gopek," teriak salahseorang anak sambil menjulur-julurkan uang lima ratus rupiah kepada penjual ikan yang duduk di sepedamotor gerobaknya.

Sang penjual pun menyodorkan sebuah toples berisi kupon-kupon. Ibarat lotere, anak itu mengambil satu kupon seharga uang yang diserahkannya. Dengan semangat ia membuka gulungan kupon tersebut.

"Yaaaah, lele!" teriaknya kecewa. Si anak pun mendapat seekor anak lele berukuran 5 cm dalam plastik kecil berisi air.

"Aku dapat pelet Bang, tukar lele," kata anak perempuan.

Sang penjual pun terlihat sibuk melayani para pelanggan-pelanggan kecilnya. Pria muda itu tampaknya sudah terbiasa menghadapi anak-anak. Ia tampak kalem melayani permintaan anak-anak yang bermacam-macam.

"Mau beli ikan kak?" katanya yang saya jawab dengan senyuman saja. Bukan, tak mau merogoh kocek barang gopek atau seceng, tapi saya asyik melihat tingkah anak-anak yang sangat bersemangat itu.

Bagaimana tidak, ikan-ikan hias itu begitu menggoda anak-anak sehingga mereka menggandrungi gerobak si penjual hingga jam istirahat berakhir. Bahkan beberapa orang saja yang menyinggahi tempat penjual mie atau jajanan. Sepertinya mereka menaruhkan semua uang sakunya untuk ikan-ikan yang menggellantung di gerobak itu.

Bagi mereka yang beruntung, kupon bisa berisi nama ikan mas koki, bagi yang tidak, hanya mendapat lele atau pelet. Namun saya bisa pastikan di puluhan kupon itu hanya 1 atau 2 kupon saja yang berisi ikan mas koki.Trik jualan!

Begitupun, ada opsi barter di sana. Pelet bisa ditukar dengan lele, begitu juga sebaliknya. Dan masih ada opsi-opsi barter yang lain.

"Bang, tukar ikan mas koki!" teriak seorang anak menyerahkan 4 bungkus anak lele plus dua lembar kupon miliknya.

Secara hitung-hitungan, untuk membeli mas koki dengan sistem barter tersebut membutuhkan uang Rp3.000 rupiah sebab harus ada 6 lele, atau 6 kupon.

Mengherankan, anak-anak itu tak mau langsung membeli mas koki dengan harga tersebut, mereka lebih memilih gamble. Mempertaruhkan lima ratus demi lima ratus milik mereka untuk kupon yang belum pasti apa isinya demi mendapat 'hadiah utama'.

Positifnya, mereka lebih memilih proses dan tantangan serta kesenangan pribadi dalam membuka kupon-kupon itu daripada proses instan menggunakan uang. ()


Minggu, 11 Januari 2015

Medan Masih Direndam Banjir

Banjir yang melanda kawasan Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (11/1). Foto|Ang

“Kak, foto Kak.. Ayo foto,” ujar sekelompok anak-anak sambil memasang gaya di tengah-tengah genangan banjir. Girang, mereka tertawa-tawa sambil kadang membantu pengendara yang kesusahan melewatkan kendaraannya di jalan yang dikepung banjir tersebut.

Banjir kembali mengepung kawasan Jalan Dr Mansyur Medan. Genangan air yang memenuhi badan jalan ini menyusul hujan yang mengguyur sejak Sabtu (10/1) malam.

Kawasan yang terkena banjir mulai dari Jalan STMK Simpang Terminal Futsal hingga simpang lampu merah Jalan Setia Budi. Sedangkan banjir yang terparah adalah di depan Rumah Makan Angkringan sebab bersebelahan dengan aliran Sungai Babura yang meluap.

Air setinggi betis orang dewasa ini menggenangi jalan dan juga mencapai teras-teras rumah makan yang ada di sekitarnya terutama di bagian jalan yang menuju arah Setia Budi. Sedangkan bagian jalan yang menuju Jamin Ginting terlihat tidak begitu terganggu.

Anak-anak di lokasi tersebut dengan senang hati membantu supir angkot, becak, gerobak bakpao dan mobil-mobil pribadi yang melintas. Mungkin di sisi lain, banjir merupakan hiburan bagi mereka yang kebetulan sedang libur sekolah.


“Masukin facebook ya kak,” teriak salahseorang dari mereka sambil berlari ke seberang jalan. ()

Minggu, 14 Desember 2014

Perempuan dalam Belenggu Perbudakan

Wanita dalam belenggu kemiskinan. Ist


Sebagian yang beruntung mungkin memiliki majikan berupa “manusia”, tapi banyak dari mereka dimiliki oleh makhluk jelmaan zaman perbudakan. Jangankan gaji yang pantas, bisa menerima gaji saja sudah syukur.



Kasus penganiayaan terhadap pembantu rumahtangga (PRT) yang mengakibatkan hilangnya nyawa kini sedang santer jadi pemberitaan media massa. Salahsatu kasus yang lagi hangat-hangatnya yaitu kisah keluarga penyalur jasa tenaga kerja, Syamsul Anwar, yang menganiaya PRTnya hingga tewas.

Setelah ditetapkan menjadi tersangka bersama kelima anggota keluarga lainnya atas tuduhan penyiksaan dan pembunuhan terhadap beberapa orang PRT di rumahnya di Jalan Beo Medan, saat ini polosi masih mendalami kasus tersebut.

Kabarnya, para korban kebringasan keluarga itu dikubur di sekitar rumah tersangka. Kemudian, ada juga yang dibuang ke jurang dan ke sungai. Para tersangka kini sedang bersiap masuk kursi pesakitan.

Kasus ini bukan terjadi di Arab Saudi atau Malaysia, tapi di Medan, di Indonesia tanah air Beta. Siapa yang jadi korban? Perempuan.

Dan ini hanyalah sebagian kecil dari kasus-kasus penganiayaan PRT perempuan di tanah air. Tidakkah kita bertanya ada apa dengan kaum perempuan kita?

Pernah sekali, penulis berkesempatan berbincang dengan seorang aktivis wanita yang bergerak di bidang kesejahteraan perempuan, Suhartini namanya. Menurut dia, penyebabnya boleh jadi karena kultur di negara kita.

Dia bilang, masih banyak orang kita yang memandang PRT sebagai budak yang bisa diperlakukan seenaknya alias tidak manusiawi. Jika salah sedikit, bogem mentah dengan ringannya dilayangkan. Atau setidaknya berupa sundutan rokok di wajah.

”Jangan salah, masih banyak orang yang pikirannya mampet seperti itu,” kata dia.

Umumnya, yang menjadi korban adalah wanita. Entah itu diperkosa, disiksa bahkan ada yang tidak digaji. Memangnya mereka itu binatang? Kok sampai hati memperlakukan mereka seperti itu.

Sebagai kaum yang dikenal lemah, ditambah lagi minim pendidikan, memang sangat sulit bertahan hidup sebagai perempuan di kota besar seperti Kota Medan ini. Bila tak sudi jadi wanita tuna susila, PRT adalah pilihan tepat. Mungkin itu yang ada dalam benak mereka.

Lagi-lagi, faktor ekonomi yang jadi biang keladinya. Demi memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal, perkerjaan apapun, asalkan halal katanya, dilakukan. Yang jadi buruh cuci lah, tukang bersih-bersih lah, sampai berakhir menjadi pelayan nafsu bejat sang majikan, atau kalau lagi sial, dihanyutkan ke sungai. Masyaallah...

PRT korban penyiksaan majikan di Medan. Ist


Perbudakan

Terkuaknya kasus penganiayaan oleh keluarga Syamsul ini, serasa memberi tamparan bagi kita. Bahwa ada banyak wanita diluar sana yang terjebak kemiskinan dan kebodohan, sehingga nyawa pun menjadi taruhannya.

Yang mengherankan, sekian banyak kasus kekerasan terhadap PRT, masih saja ada orang yang mau melakoni pekerjaan itu. Bahkan, tak jarang anak gadis seorang PRT ikut-ikutan menjadi PRT juga.

Ibarat diwariskan, profesi PRT pun seringkali menurun kepada anak-anaknya. Bahkan dalam beberapa kasus, dalam sebuah keluarga memang turun temurun melakoni pekerjaan sebagai pembantu.

Mereka juga tidak menyoal gaji. Yang penting bisa makan. Rendahnya syarat memperkerjakan PRT membuat para majikan memandang rendah kaum ini. Ibarat budak malah, bukan pekerja.

Pada dasarnya, pembantu berarti yang membantu, bukan orang yang melakukan pekerjaan utama. Tapi sekarang ini pembantu ibarat wanita robot bertangan delapan yang bisa mengerjakan apa saja dengan bayaran sangat murah. Mereka membersihkan rumah, mereka mencuci baju, memasak, belanja, mengurus anak, hingga mengurus suami.

Lebih dari itu, majikan yang memiliki pembantu di rumahnya seringkali kebablasan dengan menyuruh ini itu, menutup pintu, mengambilkan remote tv, mengambilkan sepatu, mengantar piring, bahkan disuruh bertingkah yang aneh untuk hiburan. Tidak manusiawi sama sekali.

Jangan pikir mereka dibayar pantas untuk itu. Sebagian yang beruntung mungkin memiliki majikan berupa “manusia”, tapi banyak dari mereka dimiliki oleh makhluk jelmaan zaman perbudakan. Jangankan gaji yang pantas, bisa menerima gaji saja sudah syukur.

Bahkan beberapa PRT yang pernah diwawancara mengaku hanya mendapat gaji Rp300 ribu per bulan dengan jam kerja 12 jam per hari. Kasus lain, dengan gaji Rp750 ribu mereka bekerja setiap hari mengerjakan pekerjaan rumahtangga mulai dari bersih-bersih, menjaga anak dan memasak.


The Power of Education

Bukannya kita mau bilang perkerjaan itu hina atau bagaimana, hanya saja, tidakkah mereka mau move on dari buruh menjadi pekerja mandiri? Zaman sekarang kan banyak pelatihan-pelatihan yang digalakkan baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) tertentu demi meningkatkan kesejahteraan kaum marginal.

Demikian juga disampaikan Suhartini kepada penulis, salahsatu langkah yang dapat ditempuh agar wanita-wanita kita yang berpendidikan rendah bisa bekerja secara mandiri yaitu melalui penyuluhan dan pelatihan keterampilan yang nantinya dapat mereka andalkan sebagai mata pencarian.

Selain itu, ilmu keterampilan atau kreativitas, apapun itu bentuknya, jika mampu diaplikasikan dengan baik maka bisa menjadi sumber pendapatan.

Siapa sangka industri kreatif tidak membutuhkan mereka? Mereka bisa bergabung membentuk suatu kelompok atau komunitas ibu-ibu pengrajin benda-benda pajangan yang terbuat dari daur ulang limbah. Yah, menjadi semacam usaha kecil menengah (UKM).

Dan kabar gembiranya, pemerintah punya segudang program yang memberikan bantuan pendanaan bagi para pelaku UKM. Jadi, jangan terpaku pada nasib. Sudahlah perempuan, tak sekolah pula, ya jadi pembantu lah. Jangan.

Inilah yang seringkali disangkal oleh para perempuan di tanah air. Bahwa pendidikan itu ribet, pendidikan itu membuang waktu, pendidikan itu tidak penting.

Penyangkalan terhadap the power of education ini menyebabkan leher para wanita tak pernah terlepas dari belenggu perbudakan. Mereka memilih mendekam dalam keterbatasan pengetahuan dan keterampilan seolah legowo menerima garis nasib dari Sang Pencipta.

Keterpurukan dan perlakuan semena-mena tidak akan terjadi jika Anda melek hukum, melek informasi, apa guna polisi, apa guna pengacara, apa guna LSM pendamping, apa guna anggota dewan, apa guna wartawan.

Sudah saatnya para wanita move on dari keadaan serba tergencet ini. Semakin lama persaingan di dunia kerja semakin ketat.

Ditengah kondisi ekonomi lemah dan tak punya pendidikan tinggi, meningkatkan kreativitas bisa menjadi jalan demi terciptanya hidup mandiri. Tanpa harus bertaruh nyawa menjadi PRT yang semakin hari semakin banyak yang mati. Ada banyak jalan untuk lepas dari belenggu ini. Ayo perempuan, bangkitlah! ( )

Minggu, 09 November 2014

Tarif Parkir Naik, Jangan Ditambah Premanisme

Wow, tarif parkir direncanakan naik. Kira-kira apa imbasnya ya? Selama ini, tarif parkir belum naik saja, kita sudah dikutip Rp2.000 sama abang-abang baju orange itu, konon lagi naik tarif.

Ya, persoalan parkir memang tidak ada habisnya dibahas. Ada saja hal-hal yang terpaksa diterima nalar demi memahami keganjilan dan "ketidakadilan" perparkiran di Kota Medan.

Di satu sisi kenaikan tarif parkir memang berguna untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), tidak ada yang salah di poin yang itu. Masalahnya hingga saat ini sistem perparkiran belum beres. Jangankan yang ilegal. Yang ilegal saja masih bermasalah.

Dinas Perhubungan Kota Medan hingga saat ini belum bisa mendata keseluruhan titik parkir resmi dan memastikan tidak ada kecurangan di sana. Tidak ada tanda, tidak ada tarif tetap. Sementara di titik parkir ilegal, tukang parkir marak "memalak" pengguna kendaraan. Mulai dari tarif "seikhlasnya" hingga tarif pemaksaan.

Nah, ketika wacana kenaikan tarif parkir berhembus, segala kritik dan komentar meluncur menyerang Dishub, dikarenakan hingga saat ini tarif awal saja belum transparan dan perparkiran masih semrawut.

Sebagai info, Kabid Perparkiran Dishub Medan Ridho Siregar mengaku, pihaknya akan menerapkan tarif parkir tepi jalan yang baru sesuai dengan Perda nomor 7 tahun 2002 dan diperbaharui menjadi Perda nomor 10 tahun 2011.

Di mana pada Perda tersebut dijelaskan, lokasi parkir akan diklasifikasi dalam 2 kelas. Untuk kelas 1, ditetapkan Rp2 ribu khusus sepeda motor, dan Rp3 ribu rupiah untuk jenis mobil. Sementara kelas 2 Rp1000 untuk sepeda motor dan Rp2 ribu untuk mobil.

"Pada Perda tersebut dijelaskan bahwa, tarif parkir sepeda motor sebesar Rp300, sedangkan mobil sebesar Rp1000. Kedepannya akan berubah semuanya. Tak hanya plang tarif parkir, kami (Dishub Kota Medan-red) juga telah mempersiapkan karcis parkir edisi Perda yang baru dan sudah kita sosialisasikan kepada seluruh Juru Parkir yang terdata di Dishub," ungkapnya.

Lebih lanjut Ridho menjelaskan, yang dimaksud dengan lokasi kelas 1, adalah lokasi parkir yang memiliki aktivitas kendaraan bervolume tinggi. Misalnya, di jalan Ahmad Yani, jalan Brigjend Katamso, jalan Brigjend Zein Hamid, jalan Gatot Subroto, jalan Putri Hijau, jalan Yos Sudarso, jalan Sisingamaraja, jalan Prof.Yamin, jalan Asia dan lainnya.

Sementara, yang dimaksud dengan lokasi parkir kelas 2 adalah lokasi parkir yang tidak memiliki aktivitas  kendaraan yang tinggi. Misalnya di jalan Yose Rizal, jalan Bakaran Batu, jalan Bintang, jalan Mesjid, dan lainnya.

Namun, nama-nama jalan tersebut hanyalah sebagai contoh lokasi padat kendaraan di kota Medan saja. Untuk ke absahan atas Perda baru ini, lokasi parkir kelas 1 dan kelas 2 masih diestimasi di bagian Hukum Pemko Medan.

"Kalau kelas 1 itu yang padat kendaraan, kalau kelas 2 yang gak terlalu padat kendaraan yang lewat di lokasi itu. Tapi pengklasifikasian ini gak bersifat permanen. Tergantung pada aturan rambu-rambu lalu lintasnya. Kalau ada pengalihan rambu dari yang lokasi kelas 2 menjadi kelas 1, ya berubah lagi. Otomatis lokasi kelas 2 jadi padat kendaraan kan," pungkasnya. 

Nah, masyarakat Kota Medan tidak akan keberatan dengan kenaikan tarif parkir jika, Dishub bisa menghandle para Jukir yang berlagak seperti preman. DAri itu perlu plank daftar tarif parkir dan tanda tempat parkir resmi serta himbauan "jangan bayar parki kepada orang tak jelas" atau semacamnya. Sehingga terlihat transparansi di perparkiran Kota Medan ini. (angel/sebagian dikutip dari Harian Orbit)

Kamis, 18 September 2014

Membabat Zona Hijau versi Kota Medan

Pinggir Sungai


Kebun Binatang, Edukasi Konservasi?

Kerangkeng. Berkunjung ke kebun binatang seharusnya akan memperoleh kesenangan dan hiburan. Namun jika melihat satwa dalam foto ini, apakah kita masih bisa membawa oleh-oleh berupa cerita menyenangkan.

Rasanya tidak. Hewan ini bukan hewan rumahan. Ia adalah jenis primata yang hidup diantara pepohonan. Tapi peduli amat, yang penting koleksi kebun binatang bertambah dan makin banyak hewannya.

Orangutan ini adalah salahsatu koleksi Kebun Binatang Medan atau Medan Zoo. Keberadaan kebun binatang ini tentunya dapat memberikan referensi tambahan tempat hiburan warga Medan.

Beberapa pemerhati hewan mengecam dan mengkritisi pengelolaan kebun binatang yang dianggap tidak memperhatikan kesejahteraan hewan di dalamnya.

Seperti orangutan dengan kerangkengnya, burung yang juga dalam sangkar, harimau kurus. Dan teranyar, pemerhati kura-kura jug angkat bicara soal ketidaklayakan kandang yang samasekali tidak menunjang kehidupan satwa.

"Kura-kura bukan tinggal di kolam dan kandang dengan lantai semen. Kandang kura-kura tidak perlu cantik dan mahal, cukup lantainya tanah saja. Sebab itu menyerupai habitat aslinya," terangnya suatu ketika.

Alhasil, publik mulai melontarkan pertanyaan atas fungsi kebun binatang. Bukan hanya Medan Zoo, tapi juga kebun binatang lain. Apakah kebun binatang bertujuan edukasi dan konservasi, atau sekedar pajangan layaknya pasar hewan. Di mana hewan-hewan tersebut dipajang untuk dilihat-lihat.

Dan masih tugas Pemko Medan untuk merubah konsep kebun binatang ke depannya, agar tujuan yang diniatkan itu kesampaian. Yaitu kebun binatang dengan tujuan edukasi dan konservasi.



Orangutan di Medan Zoo

Parkir Saja di Hatiku, Gratiss!!





Parkir adalah kebutuhan bagi Kota Besar. Khusus di Medan, aturan mengenai perparkiran masih sering diperdebatkan.

Belum adanya tanda bagi tempat parkir yang legal membuat para jukir dengan bebas mengutip uang parkir di mana saja. Yang jelas, di mana ada keramaian, di situ ada jukir.

Para jukir yang hampir selalu bertampang angkerpun berhasil menguras barang seribu atau dua ribu dari pengguna kendaraan bermotor.

"Jika menemukan jukir liar, bawa saja ke polisi," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Renward Parapat beberapa waktu silam.

Artinya, silakan Anda bayar saja daripada ribut-ribut. Tidak terbayang bagaimana menyeret-nyeret jukir ke kantor polisi karna mengutip dua ribu perak.

Orang Medan itu cinta damai dan tak mau berurusan panjang hingga ke polisi gara2 uang seperak. Dan saya yakin pak kadis tahu persis hal itu.

Berbicara mengenai ketertiban parkir, hal itu sangat jauh dari harapan. Marka jalan dan rambu lalu lintas tak begitu berarti untuk diperhatikan.

Hanya mirip dengan iklan sirup di pinggir jalan yang cukup dilihat, dibaca dan ditinggalkan. Buktinya, beberapa tanda larangan parkir tak digubris oleh sederet taksi biru yang nangkring di badan trotoar ini.

Rabu, 17 September 2014

Bisnis Kreatif Boneka Kain Flanel San&I Doll




Hanya perlu kreatifitas untuk menjadikannya karya yang menarik. Sedikit sentuhan kesabaran akan menambah nilai seni pada hasil akhirnya. Dan yang terpenting adalah dapat dijadikan sebagai lahan bisnis yang cukup menjanjikan.

Seperti yang sedang dirintis seorang gadis lulusan Teknik Arsitektur USU ini. Putri, begitu ia akrab disapa, sudah lebih dari tiga tahun belakangan memanfaatkan kain flanel sebagai bahan pembuat boneka.

"Mulainya sudah sejak tiga tahun lalu, tapi hanya boneka-boneka wisuda saja dan hanya dijual saat momen wisuda. Mulai online dan banyak kreasinya baru setahun belakangan," akunya.

Gadis yang kini berprofesi sebagai drafter ini awalnya membeli boneka flanel untuk dihadiahkan kepada adiknya sebagai kado wisuda. Namun, kata dia, boneka yang ia beli itu menurutnya kurang menarik. Kemudian ia membongkarnya dan mencoba membuat ulang.

"Ternyata hasilnya lebih bagus daripada boneka yang saya beli itu. Dari situlah ide untuk membuat dan menjual boneka ini lahir," tuturnya.

Dikatakan Putri, boneka-boneka flanel yang ia buat biasanya dijadikan sebagai souvenir, seperti kado ulangtahun, wisuda dan pernikahan. Tema bonekanya pun bisa disesuaikan dengan keinginan si pemesan.

"Sekarang kan lagi musim wisuda, jadi saya sedang fokuskan membuat boneka dengan tema wisuda. Bonekanya didekor mirip dengan orang yang diwisuda, lengkap dengan topi dan toganya. Boneka ini lagi laris-larisnya lho," terangnya.

Selain itu, kata dia, ada juga boneka flanel dengan tema wedding yang berpakaian daerah dan internasional. Biasanya itu dipesan orang sebagai kado pernikahan. Kemudian tema ulangtahun dan yang sedang tren saat ini adalah boneka berhijab.

"Kita selalu mencoba membuat boneka dengan tema yang disesuaikan dengan apa yang sedang tren. Berhubung sekarang lagi tren berhijab, jadi kita coba aplikasikan ke boneka yang berjilbab," ungkap gadis yang bermukim di Jalan Binjai KM 10 Kampung Lalang Medan ini.

Kemudian Putri juga membuat boneka karakter, seperti boneka chef dan dokter. Namun bila ada pemesan yang meminta dibuatkan boneka dengan karakter tokoh kartun, ia dengan senang hati akan mencoba membuatnya.

Diakui dia, peminat boneka flanel karnyanya ini cukup banyak, baik di dalam maupun di luar Kota Medan. Karena dipasarkan secara online, pasarannya bahkan sudah merambah ke Pulau Jawa.

Sementara untuk harga, dia mengatakan boneka-boneka flanel buatannya ini cukup terjangkau. Mulai dari Rp35 ribu hingga Rp200 ribu bergantung tingkat kerumitan tema yang dipesan dan ukurannya.

"Untuk boneka seperti boneka wisuda atau ulangtahun, kan ada ukurannya. Yang terkecil kita hargai Rp35 ribu, sedang Rp50 ribu dan besar Rp100 ribu. Sementara yang couple, biasanya boneka wedding, Rp200 ribu," paparnya.

Selain boneka, Putri juga membuat gantungan kunci dan magnet kulkas yang juga berbahan dasar kain flanel dan masing-masing item dihargai Rp10 ribu per buah.

Jika berminat dan ingin memesan, Putri bisa dikontak melalui facebook www.facebook.com/sannifelt, twitter @sanni_twit, blog www.sannidol.blogspot.com, LINE sannifelt dan BBM 7E9906C1 atau via telepon. ()

Dahsyatnya Lagu Nia Daniyati





Nama Nia Daniyati pasti tidak asing di telinga. Khususnya bagi yang gemar mengikuti kisah artis kontroversial Farhat Abbas.

Ya, janda Farhat Abbas ini memang terkenal dengan suaranya yg merdu melantunkan tembang cinta.

Lagu-lagu yang dibawakan Nia, meskipun lawas, ternyata masih digemari sejumlah orang termasuk supir angkot.

Nah, yang mau saya ceritakan adalah peristiwa kira-kira sebulan yang lalu. Saat itu saya berada di perjalanan menuju Dolok Masihul dengan Bus Netis.

Saya duduk di bangku belakang supir dekat dengan pintu masuk. Bus pun berjalan dengan kecepatan tinggi. Seorang wanita paruh baya yang berada di sebelah saya sudah daritadi melayang ke mimpinya. 

Lagu-lagu Simalungun milik sang sopir pun melantun membuat kernek bus manggut-manggut mengikut irama.

Kemudian sopir mengganti lagunya dengan album tembang lawas Nia Daniyati. Lagu demi lagu pun diperdengarkan kepada seluruh penumpang di dalam bus. Sang sopir pun terlihat ikut menyanyi pelan mengikuti lagu. 

Sedangkan sang kernek hanya diam. Mungkin dia tidak akrab dengan lagunya, maklum sang kernek sepertinya potongan remaja tanggung yang gemar musik-musik house.

Memasuki daerah Lubuk Pakam seorang wanita masuk dan duduk di bangku di hadapanku. 

Mulanya aku tak begitu memperhatikan. Tapi lama kelamaan kulihat ia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata menetes ke pipinya. 

Awalnya kupikir dia mabuk darat atau menahan muntah. Tapi belakangan aku mengerti ia sedang menahan tangis sekuat tenaga. Terbukti, ia tersedak-sedak dan menutupi wajahnya.

Aku dan penumpang lain hanya bisa memandangi. Beberapa dari kami ingin menawarkan tissue namun mengurungkan niat. Takut dia tersinggung.

Lagu Nia Daniati masih melantun. Aku yakin semua kami mendengar lirik per lirik dengan seksama.

Begitu juga dengan wanita itu, ia tambah tersedu-sedu setiap kali Nia Daniati bercerita sedih lewat lagunya.

"Samakah aku dengan burung di sangkar yang dijual orang? Hingga kau perlakukan sesuka hatimu. Cintaku bukan anggur yang jika habis dapat kau tuang lagi," lantun Nia Daniati diikuti menganaksungainya airmata wanita tadi.

Wanita itu pun kalap, menangis sejadi-jadinya. Dan kami para penumpang hanya bisa menonton.

Salahsatu dari kami akhirnya menyodorkan tissue dan mengusap bahu wanita itu.

"Gak usah dipikirkan kali kak," ucap kakak itu sopan.

"Iya kak, makasih ya," jawab wanita itu tanpa mengurangi airmatanya.

"Lari dari rumah ya," ibu yang di sebelahku membuka calak percakapan untuk sebuah cerita misteri di balik tangisan wanita itu.

"Iya bu," jawabnya menahan ledakan tangis dari dadanya.

"Kenapa? Suami selingkuh?" tanya ibu itu lembut, berbeda sekali dgn tampangnya yang agak angker.

"Bukan," katanya.

"Jadi kenapa? Eh, bang supir, ganti dulu lagu abang itu, jadi nangis kakak ini abang buat," katanya disambut tawa seluruh penumpang. Wanita itu tersenyum ciut, melempar sedikit penghargaan atas hiburan yang kami berikan.

Dan ia membeberkan kejadian yang menimpanya kepada ibu di sebelahku layaknya curhat pada psikolog.

Ia mengatakan dirinya kabur dari rumah sebab tak tahan atas perlakuan suaminya yang ringan tangan dan tempramen.

Ia juga menyebutkan sederet pertengkaran mereka yang menghasilkan luka luar dalam bagi dirinya. Sebagai wanita yang tak lagi memiliki ayah, dia juga merasa lemah dan tak berdaya. Bahkan sang suami tak lagi hormat pada orangtuanya.

Ibu empat anak itu memutuskan lari dari rumah setelah perkelahian hebat dan tanpa sengaja ia melukai kepala suaminya dengan pompa sepeda.

Alhasil, suami mengancam akan melaporkan hal tersebut pada polisi. 

Ia pun mengakui, sejak memasuki bus kami hatinya sudah berkecamuk dan semua lirik lagu Nia Daniyati itu memang tepat menancap di hatinya sehingga ia tak kuasa menahan tangis.

Begitupun, saat ia tiba di tujuannya, ia sempat melempar senyum ke kami sebelum turun. Airmatanya hampir kering.()